



Proyek ini diberi nama Maya. Dalam kosmologi Bali, istilah “Maya”, yang berasal dari bahasa Sanskerta, berarti ilusi — selubung antara yang terlihat dan yang tidak terlihat.
Referensi utama adalah atap pura Meru, sebuah struktur bertingkat yang melambangkan Gunung Meru, poros sakral yang menghubungkan bumi dan langit. Villa Maya menafsirkan kembali arketipe ini sebagai satu volume trapesium. Dua dinding beton miring, yang diposisikan pada sudut enam belas derajat, membentuk wujud bangunan, menopang struktur utama, membingkai pandangan utama, dan menambatkan bangunan pada dataran tinggi batu kapur.
Lapisan konseptual kedua adalah Teja, prinsip filosofis Bali yang berasal dari bahasa Sanskerta. Prinsip ini memahami cahaya sebagai energi — transformatif, generatif, dan mampu membentuk makna. Fasad cermin dan permukaan air disusun sedemikian rupa sehingga langit, cakrawala, dan arsitektur menyatu dalam satu bidang visual. Area masuk mengikuti prinsip Barong. Dalam kepercayaan Bali, Barong adalah roh pelindung yang dikaitkan dengan perlindungan dan harmoni. Elemen beton monolitik berfungsi sebagai tubuh pelindung. Elemen kaca transparan membentuk wajah yang terbuka terhadap cahaya. Area masuk ditata sebagai transisi dari perlindungan menuju keterbukaan.