Golden Tree didirikan dan beroperasi di Indonesia, di pulau Bali. Bagi kami, Bali bukan sekadar lokasi. Ini adalah sumber inspirasi — lapisan gambar, makna, dan keadaan jiwa yang tak ada habisnya. Alam pulau yang luar biasa, budaya kuno yang dibentuk oleh mistisisme, ritual, dan simbolisme, serta cara hidupnya yang unik, membentuk fondasi pandangan dunia dan pendekatan arsitektur kami.
Terinspirasi oleh konteks ini, kami tidak berupaya mereproduksi bentuk tradisional Bali secara harfiah. Sebaliknya, kami mengeksplorasi skenario ruang baru, bentuk-bentuk ekspresif, dan bahasa kontemporer yang memungkinkan Bali ditafsirkan dengan cara berbeda. Pendekatan kami dinamis, futuristik, dan kerap sengaja tidak konvensional. Namun, di balik setiap bentuk visual terdapat makna — yang terhubung dengan pulau ini, kode budayanya, serta rasa yang lebih dalam terhadap tempat.
Setiap proyek menjadi upaya untuk menafsirkan kembali identitas lokal melalui arsitektur kontemporer. Terkadang hubungan ini terlihat jelas — seperti pada Villa Maya, yang bentuknya terinspirasi oleh gunung-gunung berapi suci Bali dan siluet atap pura setempat. Pada proyek lain, hubungan tersebut muncul dengan cara yang lebih halus dan abstrak — seperti Villa Nebula, yang didasarkan pada struktur geologis lanskap Semenanjung Bukit.
Di White Rock, batu kapur lokal menjadi fondasi keseluruhan konsep arsitektur. Interior dan eksterior vila dibentuk oleh lempengan besar batu alam yang seolah secara intuitif menentukan plastisitas dan detail ruang. Seluruh vila dipersepsikan sebagai bagian hidup dari ekosistem alami pulau — bukan objek yang ditempatkan di dalam lanskap, melainkan perpanjangan darinya.
Tantangan utama kami adalah menggunakan arsitektur untuk menyampaikan bukan hanya estetika ruang, tetapi juga aspek budaya lokal yang lebih halus, cara pulau ini memandang kehidupan, serta keadaan emosionalnya. Kami terus mencari cara baru agar hubungan ini menjadi lebih dalam dan lebih nyata.
Salah satu langkah dalam pencarian tersebut adalah perkenalan kami dengan seniman sekaligus mistikus Bali, Adi Candra. Karya-karyanya merupakan bahasa visual yang mengungkap makna tersembunyi, keadaan batin, dan energi spiritual Bali. Kolaborasi dengannya memungkinkan kami menciptakan lapisan lain dalam persepsi ruang: melalui seni, kami dapat menyampaikan bukan hanya atmosfer sebuah tempat, tetapi juga filosofi dari setiap proyek.
Adi Candra lahir di Bali dan tinggal di kawasan Ubud — sebuah tempat di mana seni, ritual, alam, dan praktik spiritual tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Saya tinggal di kawasan Ubud — di lingkungan tempat seni dan budaya memiliki kekuatan besar. Tradisi tempat ini sangat memengaruhi karya saya dan menjadi sumber kekuatan, baik dalam dunia seni maupun spiritual,” ujar Adi Candra.
Perjalanan seninya tidak dapat dipisahkan dari transformasi pribadi. Sang seniman berbicara secara terbuka tentang sebuah masa yang mengubah cara ia memandang kehidupan, dirinya sendiri, dan kreativitas.
“Momen paling penting dalam hidup saya adalah ketika saya mampu melewati keadaan yang sulit, memperluas kesadaran, dan masuk lebih dalam ke dunia spiritual. Hal itu mengubah pola pikir saya dan membuka hati saya. Saya mulai menerima berbagai situasi melalui doa, rasa syukur, dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri saya sendiri.”